Kabupaten Jayawijaya identik dengan Lembah Baliem, atau sebutan yang benar: Lembah Balim. Setidaknya karena ibukota, Wamena, berada di Lembah Balim. Kawasan Lembah Baliem, yang merupakan pemukiman Suku Dani, pertama dikenal dunia luar ketika tim ekspedisi dari American Museum of Natural History terbang melintas dan melihat dataran hijau yang luas, pada 13 Juni 1938.
Untuk Hal ini sangat sepakat karena dengan kehadiranya tim ekspedisi dari Amerika pada waktu itu di Lembah Baliem membuka suatu akses bagi orang lembah balim secara tidak lansung mengenal suatu KOTA,menurut teori arsitektur’ namun pandangan kota secara fisik dilihat dari bentuk,tata dan produk yg di aplikasikan oleh pemerintah terutama Bangunan-Bangunan Pemerintahan setelah kemerdekaan RI sesunguhnya masi menjadi pertanyaan di kalangan orang lembah balim itu sendiri, di akhir2 ini karena mengingat Papua (Lembah Balim) wilayah paling timur di Indonesia yang kaya akan kultur lokal yang terintegrasi terhadap sistem kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia. Bentuk-bentuk Bangunan kepemerintahan pada umumnya yang monoton seolah tidak mengangkat nilai kultur (branding building) yang ada dalam wilayah pembangunan. Pada hal, kalau di lihat Pilamo/honai, sebuah Bangunan tradisional yang terbentuk dari sebuah sistem pemerintahan ( KECIL ) Kepala SUKU dan struktural untuk melindungi seluruh orang lembah balim.
Kalau di aplikasikan; Bangunan tradisional lembah balim, terbagi menjadi tiga bagian zona besar:
(1) Zona Pemimpin, yaitu berisikan petinggi atau kepala suku, Kalau di pemerintahan ‘Bupati’
(2) Zona antara, yaitu berisikan sebuah Hunila/Dapur atau di sebut ruang bersama. Barang kali mungkin Dinas2 dan Badan2nya.
(3) Zona terlindung, yaitu zona yang hanya digunakan sebagai tempat ritual khusus yang tidak diperuntukkan untuk semua orang masuk.