.jpg)
GLOBALISASI: PELUANG DAN ACAMAN MULTIKULTURALISME
Globalisasi adalah sebuah babakan baru dalam proses perkembangan bangsa.
Apakah secara psikologi anak-anak bangsa ini telah benar-benar dipersiapkan untuk menyongsong datangnya zaman industrialisasi dan revolusi informasi dengan segala konsekuensinya ?
Proses industrialisasi dengan penerapan teknologi modern memaksa manusia melakukan berbagai adaptasi agar penghayatan teknologi serta pemakaian produknya dapat berjalan lancar. Kalaupun ada hambatannya, itu karena struktur pribadi dan sistem nilai.
Sikap mental yang irasional,orientasi pada status,prinsip partikuralisme kesemuanya itu merupakan hambatan.
Mempersiapkan anak-anak bangsa menjadi manusia yang berkualitas dengan kepribadian yang benar-benar cocok dengan dinamika industrialisasi
KARAKTERISTIK MASYARAKAT GLOBAL (Sebuah Perspektif)
· Menurut A.W. Praktiknya, beberapa kecenderungan perkembangan masyarakat pada era global adalah sebagai berikut:
· Masyarakat fungsional
· Masyarakat teknologis
· Masyarakat saintifik
· Masyarakat terbuka
· Transendentalisasi agama
· Masyarakat serba nilai
Sumber: Antropologi Budaya : GLOBALISASI: PELUANG DAN ACAMAN MULTIKULTURALISME, KARAKTERISTIK MASYARAKAT GLOBAL (Sebuah Perspektif) http://manusiapinggiran.blogspot.com/2013/04/antropologi-budaya-globalisasi-peluang.html#ixzz3LEHW0kaJ
Follow us: @fajar_berkata on Twitter
GLOBALISASI: PELUANG DAN ACAMAN MULTIKULTURALISME, KARAKTERISTIK MASYARAKAT GLOBAL (Sebuah Perspektif)
MASYARAKAT INDONESIA YANG MULTIKULTURAL, MULTIKULTURALISME DAN KEARIFAN UNIVERSAL
.jpg)
MASYARAKAT INDONESIA YANG MULTIKULTURAL
Cita-cita spirit reformasi adalah terbentuknya sebuah masyarakat sipil yang demokratis, ditegakkannya hukum, terselenggaranya pemerintah yang bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial, terciptanya rasa aman, terjaminnya kelancaran produktifitas warga masyarakat dan kehidupan ekonomi yang mensejahterakan rakyat Indonesia. Hasil reformasi ini adalah, bahwa masyarakat Indonesia yang bercorak majemuk yang berisikan potensi kekuatan primodialisme yang otoriter militeristik harus digeser menjadi ideologi keanekaragaman kebudayaan atau ideologi ideologi multikulturalisme.
MULTIKULTURALISME DAN KEARIFAN UNIVERSAL
Multikulturalisme adalah kearifan untuk melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Karifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural sebagai kemestian hidup yang kodrati, baik dalam kehidupan dirinya sendiri yang multi dimensional maupun dalam kehidupan masyarakat yang lebih kopleks, dan karenanya muncul kesadaran bahwa keanekaragaman dalam dalam realitas dinamik kehidupan adalah suatu kaniscayaan yang tidak bisa di tolak, di ingkari, apalagi di musnahkan.
MULTIKULTURALISME DAN PERSEBARANNYA
.jpg)
MULTIKULTURALISME DAN PERSEBARANNYA
Konsep multikulturalisme tidak dapat di samakan dengan konsep keanekaragaman suku bangsa atau kebudayaan yang menjadi ciri masyarakat majemuk karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan. Di Amerika serikat, berbagai gejolak sosial untuk persamaan hak bagi golongan minoritas dan kulit hitam serta kulit putih mulai muncul diakhir tahun 1950an. Puncaknya adalah pada tahun 1960an dengan dilarangnya perlakuan diskriminasi oleh orang kulit putih terhadap orang kulit hitam ditempat-tempat umum.
Sekarang ini bahkan anak-anak cina, meksiko, dan berbagai golongan suku bangsa lainnya dapat belajar dengan menggunakan bahasa ibu mereka Disekolah sampai tahap-tahap tertentu. Multikulturalisme bukan hanya sebuah wacana tetapi sebuah ideologi yang harus diperjuangan. Multikulturalisme dibutuhkan sebagai landasan bagi tegaknya demokrasi, HAM, dan kesejahteraan hidup masyarakat. Multikulturalisme bukan sebuah ideologi yang berdiri sendiri tetapi masih tetap membutuhkan seperangkat konsep-konsep yang mendukungnya.
Sumber: Antropologi Budaya : MULTIKULTURALISME DAN PERSEBARANNYA http://manusiapinggiran.blogspot.com/2013/04/antropologi-budaya-multikulturalisme.html#ixzz3LEF3ZTty
Follow us: @fajar_berkata on Twitter
AKAR SEJARAH MULTIKULTURALISME

Sejarah historis, sejak jatuhnya presiden Soeharto dari kekuasaannya yang kemudian di ikuti dengan masa yang di Sebut sebagai “era reformasi”, Kebudayaan Indonesia cendrung mengalami disintregasi. Krisis sosial budaya yang meluas itu dapat di saksikan Dalam Berbagai Bentuk disorientasi dan dislokasi banyak kalangan masyarakat kita yang semakin merebak seiring dengan meningkatnya penetrasi dan ekspansi budaya barat khususnya Amerika.
Berbagai ekspresi sosial budaya yang asing dan tidak memiliki basis dan preseden kurturalnya semakin menyebar dalam masyarakat kita sehingga memunculkan kecenderungan “gaya hidup” baru yang tidak selalu Sesuai dengan kehidupan sosial budaya masyarakat dan bangsa.
Dari berbagai kecenderungan ini, orang bisa menyaksikan kemunculan kultur hibryd, budaya gado-gado tanpa identitas, di indonesia dewasa ini. Budaya hidryd dapat mengakibatkan lenyapnya identitas kultur nasional dan lokal, padahal identitas nasional dan lokal tersebut mutlak di perlukan bagi terwujudnya integrasi sosial, kultural dan politik masyarakat indonesia.
Pluralisme kultural di Asia tenggara khususnya Indonesia, sangatlah mencolok. Karena itulah dalam teori politik barat sepanjang dasawarsa 1930-an, wilayah ini di pandang sebagai “locus klasik” bagi konsep “masyarakat majemuk/ plural” yang di perkenalkan ke dunia barat oleh JS. Furnival.
Menurut Furnival, masyarakat plural adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih unsur-unsur atau tatanan sosial yang hidup berdampingan, tetapi tidak bercampur dan menyatu dalam 1 unit politik tunggal.
Pengalaman Indonesia sejak awal masa kemerdekaan, khususnya pada masa demokrasi terpimpin dan masa orde baru memperlihatkan kecenderungan kuat pada penerapan politik monokulturalisme.
Dari perspektif politik Indonesia, berakhirnya sentralisme kekuasaan pada masa orde baru memaksakan “mono-kulturalisme”, monokulturalitas, keseragaman, memunculkan reaksi balik, yang bukan tidak mengandung sejumplah implikasi negatif bagi rekontruksi kebudayaan Indonesia yang pada hakekatnya multikultural.
Sebagaimana di kemukakan di atas, merupakan kenyataan yang sulit di ingkari, bahwa negara Indonesia terdiri dari sejumlah besar etnis, budaya, agama, dll sehingga secara sederhana dapat di sebut sebagai masyarakat multikultural. Menurut analisis Muhaemin el-ma’hady, akar sejarah multikulturalisme bisa di lacak secara historis, bahwa sedikitnya selama 3 dasawarsa kebijakan yang sentralistis dan pengawalan yang ketat terhadap isu perbedaan telah menghilangkan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan, dan memecahkan persoalan yang muncul karena adanya perbedaan secara terbuka, rasional dan damai.
Ada 3 kelompok sudut pandang yang biasa berkembang dalam menyikapi perbedaan identitas kaitannya dengan konflik yang sering muncul.
1. Pandangan kaum primordialis
2. Pandangan kaum instrumentalis
3. Pandangan kaum konstruktif
multikulturalisme adalah sebuah konsep di mana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan kemajemukan budaya, baik ras suku, etnis, agama, dll. Sebuah konsep yang memberikan pemahaman bahwa sebuah bangsa yang plural dan majemuk adalah bangsa yang di penuhi dengan budaya-budaya yang beragam. Dan bangsa multikultural adalah bangsa yang kelompok-kelompok etnik atau budaya yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip co existensi yang di tandai oleh kesediaan untuk menghormati budaya lain.
Parekh, membedakan 5 macam multikulturalisme meliputi : Multikulturalisme isolasionis, Multikulturalisma akomodatif, Multikulturalisme otonomis, Multikulturalisme kritikal, Multikulturalisme kosmopolitan
Sumber: Antropoligi Budaya : AKAR SEJARAH MULTIKULTURALISME http://manusiapinggiran.blogspot.com/2013/04/antropoligi-budaya-akar-sejarah.html#ixzz3LEDy0c3W
Follow us: @fajar_berkata on Twitter
KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME

A. Pengertian Pendidikan Multikulturalisme
Pendapat Andersen dan Cusher ( 1994:320 ), pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. James Banks ( 1993:3 ) pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan ( anugrah tuhan atau sunatullah ). Muhaemin el Ma’hady, pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebgai pendidikan tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografi dan kultural lingkungan masyarakat tertentu bahkan dunia secara keseluruhan ( global ).
Hilda Hernandez pendidikan multikultural sebagai prespektif yang mengakui realitas politik,sosial,dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas, agama, gender, etnisitas, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.
Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan “ menara gading “ yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya harus mamapu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, buka sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialami.
James Banks ( 1994 ), pendidikan multikultural memiliki beberapa dimensi yang saling berkaitan satu dengan yang lain, yaitu : Pertama, Content Intergration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kerealisasi dan teori dlam mata pelajaran/disiplin ilmu. Kedua, the knowledge construction process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran ( disiplin ). Ketiga, an equity paedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya ataupun sosial. Keempat, prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menetukan metode pengajaran mereka.
Secara umum peserta didik memiliki lima ciri yaitu :
1. Peserta didik dalam keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemapuan, kemauan, dan sebagainya.
2. Mempunyai keinginan untuk berkembang ke arah dewasa.
3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.
4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individual.
Mengenai fokus pendidikan multikultural, Tilaar mengungkapkan bahwa dalam program pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok rasial, agama dan kultur dominan atau mainstream. Dalam konteks teorits, belajar dari model-model pendidikan multikultural yang pernah ada dan sedang dikembangkan oleh negara-negara maju, dikenal lima pendekatan, yaitu : pertama, pendidikan mengenai perbedaan kebudayaan atau multikulturalisme. Kedua, pendidikan mengenai perbedaan kebudayaan atau pemahaman kebudayaan, ketiga, pendidikan bagi pluralisme kebudayaan. Keempat, pendidikan dwi-budaya. Kelima,pendidikan multikultural sebagai pengalaman moral manusia.
B. Paradigma Pendidikan Multikultural
Ali maksum menggambarkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat majemuk atau pluralis. Kemajuan bangsa Indonesia dapat dilihat dari dua prespektif, yaitu : horizontal, kemajemukan bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, pakaian, makanan, dan budaya. Vertikal, kemajemukan bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, pemukiman, pekerjaan, dan tingkat sosial budaya.
Pakar pendidikan, Syarif Sairin ( 1992 ), memetakan akar-akar konflik dalam masyarakat majemuk,
1. Perebutan sumber daya, alat-alat produksi, dan kesempatan ekonomi.
2. Perluasan batas-batas sosial budaya.
3. Benturan kepentingan politik, ideologi, dan agama.
Pendidikan multikulturalisme biasanya mempunyai ciri-ciri :
1. Tujuan membentuk “ manusia budaya “ dan menciptakan “ masyarakat berbudaya “.
2. Materinaya mengajarkan nilai-nlai luur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis.
3. Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis.
4. Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.
C. Pendekatan Pendidikan Multikultural
Men-design pendidikan multikultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan antara kelompok, budaya, suku, dan lain sebagainya, seperti Indonesia, mengamdung tantangan yang tidak ringan.
Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural. Pertama tidak lagi menyamakan pandangan pendidikan dengan persekolahan,atau pendidikan multikultural dengan progrma-program sekolah formal. Kedua menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan dengan kelompok etnik. Ketiga interaksi insentif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi maka dapat dilihat lebih jelas bahwa upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang tyerpisah secraa etnik merupakan antietnis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Keempat pendidikan multiltural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kelima kemungkinan bahwa pendidikan meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan.
D. Pendidikan Berbasis Multikultural
Hilda Hernandez, telah diungkapkan dua definisi ‘klasik’ untuk menekankan dimensi konseptual MBE yang penting bagi para pendidik. Definisi pertama menekankan esensi MBE sebagai prespektif yang mengakui realitas politik,sosial, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang ko pleks dan beragam secara kultur. Definisi ini juga bermaksud merefleksikan pentingnya budaya, ras, gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi dan [pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan.
E. Wacana Pendidikan Multikultural di Indonesia
Menurut Azyumardi Azra, pada level nasional berakhir sentralisme kekuasaan yang pada masa orde baru memaksakan “ monokulturalisme “ yang nyaris seragam memunculkan reaksi balik, yang mengandung implikasi negatif bagi rekontruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural.
F. Pendidikan Multikultural dan Pendidikan Global
Pendidikan multikultural berarti menegmbangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya. Dengan demikian pendidikan global tidak mengurangi pengembangan kesadaran akan kebanggaan terhadap suatu bangsa. Dalam pendidikan multikultural dapat diidentifikasikan perkembangan sikap seseorang dalam kaitannya dengan kebudayaan-kebudayaan lain dalam masyarakat lokal sampai kepada masyarakat dunia global. James Banks mengemukakan beberapa tipologi sikap seseorang terhadap identitas etnik atau cultural identity, :
1. Ethnic psychological captivy
2. Ethnic encapsulation
3. Ethnic identifities clarification
4. The ethnicity
5. Multicultural ethnicity
6. Globalisme
G. Menuju Multikulturalisme Global
Multikulturalisme global berangkat dari kenyataan sejarah di mana budaya-budaya bangsa begitu majemuknya, sehingga monokulturalisme, buday tunggal, tidak mungkin menjadi agenda sebuah negara bangsa untuk dipaksakan kepada bangsa-bangsa lain.
Pengertian budaya di sisni tidak terbatas dalam seni, tapi mencakup segala hal yang menjadi proses dan produk sebuah komunitas : agama,ideologi,sistem hukum,sistem pembangunan, dan sebagainya.
Sumber: KONSEP PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME http://manusiapinggiran.blogspot.com/2014/04/konsep-pendidikan-multikulturalisme.html#ixzz3LEAnGo1X
Follow us: @fajar_berkata on Twitter
Sarjana Teknik Ini Sukses di Bisnis Agrowisata

Terjun ke bisnis agrowisata tak pernah terlintas di benak Irfandie Adi Pradana. Sebagai sarjana teknik metalurgi lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB), pria 23 tahun ini tentu mengidamkan berkarier di bisnis pertambangan.
Namun, semuanya berubah saat ia diminta oleh bapaknya yang sudah tua untuk meneruskan usaha kebun stroberi yang selama ini dia kelola. Sebagai putra sulung, pria yang akrab disapa Fandie ini tak kuasa menolak permintaan orang tuanya.
Sebelum Fandie terjun mengelola usaha keluarga ini, bapaknya pernah menyerahkan ke orang lain. Namun, hasilnya tidak memuaskan. "Akhirnya mau gimana lagi, saya turun tangan," katanya.
Terletak di daerah wisata Lembang, Bandung Barat, kebun stroberinya ini dinamakan Natural Lembang. Dinamakan Natural Lembang karena kebun ini menerapkan pola pertanian organik. Jadi bebas pestisida dan bahan kimia lainnya.
Letaknya yang tak jauh dari kawasan wisata Gunung Tangkuban Perahu, membuat kebun ini cukup strategis. Fandie sadar betul akan nilai lebih kebunnya yang terletak di kawasan strategis ini. Dengan sentuhan tangan dinginnya, ia pun segera membenahi untuk menarik minat pengunjung.
Di antara terobosannya adalah menggenjot produksi kebun hingga menghasilkan 50 kilogram (kg) stroberi per hari, melakukan rebranding dan promosi lewat internet dan sosial media, mendesain kontur kebun stroberi menjadi lebih menarik, hingga mengadakan program edukasi bagi anak-anak untuk menanam dan memetik stroberi di kebun.
Di kebun seluas 3 hektare (ha) ini juga disediakan restoran sunda yang menyediakan menu masakan dengan menggunakan stroberi sebagai bahan campuran. Antara lain, ada menu nasi goreng stroberi, nasi penyet stroberi, nasi liwet stroberi, dan berbagai minuman olahan stroberi.
Lewat sejumlah terobosan itu, kini Natural Lembang menjadi sangat populer. Setiap hari, ada saja rombongan anak sekolah datang belajar menanam stroberi, memetik stroberi, sekaligus berwisata.
Menurut Fandie, dalam sehari, jumlah pengunjung berkisar antara 50 orang sampai 100 orang di hari biasa. Sementara saat akhir pekan bisa 200 orang. Bahkan, jika sedang musim liburan atau high season bisa 100 orang per hari.
Pengunjungnya bukan hanya dari Jawa Barat saja. Tapi juga dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan, turis mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Korea, dan negara-negara Timur Tengah sudah mampir ke kebun stroberi milik Fandie. Dengan dibantu 50 karyawan, kini bisnis agrowisata stroberi miliknya bisa menghasilkan omzet ratusan juta dalam sebulan.
Terinspirasi keluarga
Meski memiliki latar belakang pendidikan yang jauh dari bisnis yang dia kelola saat ini, namun Fandie bisa mengatasi hal tersebut. Sebab, sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat orangtuanya berbisnis.
Sebelum mendirikan kebun stroberi dan restoran khusus stroberi, orangtuanya menggeluti berbagai bisnis mulai dari usaha toko material, tempat cuci motor dan mobil, bengkel, warteg, hingga memproduksi batako. "Mereka jatuh bangun menjalankan bisnis-bisnis tersebut," katanya.
Karena itulah, Fandie sudah biasa untuk ikut terjun dalam proses bisnis. Sampai akhirnya di tahun 2009, orangtua Fandie mendirikan restoran Sunda yang berlokasi di Ciburial, Lembang. Kebetulan restoran Sunda itu berdiri di lahan sendiri dan di sampingnya terdapat lahan kosong yang hanya ditanami pepohonan.
Lahan kosong itu juga milik orangtuanya lantas dibuatkan kebun stroberi. Bibit stroberi didatangkan dari Garut, Jawa Barat. "Dulu kebun stroberi dan restoran luasnya hanya 1 ha," kata dia.
Kala itu, Fandie masih kuliah di ITB dan kebun stroberinya masih sangat sederhana bahkan dari jauh masih nampak seperti hutan. Restorannya pun masih menyajikan menu-menu masakan Sunda dan belum ada menu olahan stroberi. Mendapat inspirasi dari salah satu petani kebun stroberi yang sukses, Fandie mengajak ayahnya untuk mulai membenahi sedikit-sedikit kontur tanah agar menjadi tempat wisata.
Hal itu bukan hal yang sulit bagi Fandie, sebab sedari kecil dia dan keluarga suka bercocok tanam. Ia bercerita sayur-sayuran yang ia makan kebanyakan hasil tanam sendiri. Akhirnya, kebun stroberi banyak dilirik pengunjung meski masih belum besar. Di tahun 2011, Fandie mengusulkan agar lahan kebun diperluas agar semakin banyak pengunjung dan stroberi yang dihasilkan makin banyak.
Dia juga mewajibkan stroberi yang ditanam harus ditanam dengan teknik organik. "Jadi bapak saya beli lahan warga, dan totalnya kini semua ada 3 ha. Mulai dari situ saya semakin gencar ingin mengembangkan bisnis, membuat kontur berundak-undak agar lebih menarik," kata dia.
Saat masih kuliah, dia bertugas membantu untuk urusan promosi salah satunya membuat situs resmi dan berpromosi di media sosial. "Saat itu saya memang belum fokus membantu penuh waktu karena ada tugas kuliah," kata dia.
Fandie juga tidak dipersiapkan menjadi penerus bisnis ini. Sempat selama setahun ayahnya memperkerjakan orang untuk menjadi manajer restoran dan kebun stroberinya. Namun, penjualan tidak maksimal dan akhirnya ayahnya kembali mengurus semuanya.
Akhirnya, ketika di tingkat akhir kuliahnya Fandie sadar bahwa jalannya adalah menjadi seorang pengusaha. "Jika ingin kaya harus jadi pengusaha, "
Popular Posts
-
Sejarah Kabupaten Jayawijaya sangat berhubungan erat dengan sejarah perkembangan gereja di wilayah ini, karena daerah ini adalah daerah t...
-
GLOBALISASI: PELUANG DAN ACAMAN MULTIKULTURALISME Globalisasi adalah sebuah babakan baru dalam proses perkembangan bangsa. Apakah secara ...
-
Kepala Suku Lembah Baliem Wamena Papua Bpk. Dimpik Dominikus Mabel bersama Mayjen TNI Asrobudi Direktur Pemantapan Semangat Bela Neg...